Pulang Dinas, Oleh-oleh Cerita dan Lumpia Semarang

Hai, Cuti Lovers! Kali ini, aku mau ajak kalian jelajah masa lalu saat aku masih kerja di perkebunan kelapa sawit milik swasta yang kantor pusatnya di Semarang.

Yupz. Cerita ini akan berpusat pada salah satu kuliner legendaris sekaligus oleh-oleh khas kota tersebut. Lumpia Semarang.

Mungkin aku emang bukan pecinta lumpia. Tapi, kalian harus tahu! Dulu tuh, kantorku punya kantor perwakilan di Palembang. Semacam kantor transit sebelum terhubung ke site atau perkebunan kelapa sawitnya.

Beberapa kali, ada staff dari kantor perwakilan yang dinas ke kantor pusat gitu. Sebagai pendatang, tentulah mereka ingin wisata kuliner dan semacamnya sebelum balik ke penempatan kerja.

Sudah bisa nebak ‘kan sekarang? Iya, mereka kayak kecintaan banget sama lumpia Semarang. Semacam kurang afdhal kalau ke Semarang nggak makan lumpia katanya.

Dan aku cuma bisa senyum, karena di titik itu aku sadar. Buat banyak orang luar kota, lumpia bukan cuma jajanan, tapi simbol kalau mereka sudah pernah menapakkan kaki ke sana.

Daftar Isi

Dari Dapur Cinta ke Ikon Kota

Ngomongin lumpia Semarang tuh rasanya nggak bisa lepas dari kisah cinta lintas budaya. Kok bisa?

Dari yang kubaca di laman Wikipedia, lumpia lahir dari pertemuan dua insan.

Tjoa Thay Yoe, keturunan Tionghoa yang buka usaha makanan khas daerahnya, berupa makanan pelengkap berisi daging babi dan rebung.

Mbak Wasih, wanita asli Jawa, yang buka usaha makanan yang mirip dengan milik Tjoa Thay Joe. Bedanya adalah punya Mbak Wasih ini makanannya berupa hidangan pelengkap berisi kentang dan udang serta bercita rasa manis.

Alih-alih bersaing, kedua insan ini malah jatuh cinta dan meleburkan usahanya. Lalu, lahirlah makanan khas yang menjadi ikon kota bernama lumpia Semarang.

Baca juga:  BBQ Lamb KL Kemensah Ingatkan pada Piknik dan Makan Di Sungai

Penyajian Lumpia Semarang

Penyajian Lumpia Semarang

Kalau awalnya sih, penyajian lumpia Semarang tuh nggak digoreng. Soalnya, emang maksudnya kue ini tuh lunak.

Tapi, seiring dengan perkembangannya, penikmat lumpia Semarang terbagi menjadi dua kubu, yaitu lumpia basah dan lumpia goreng.

  1. Lumpia basah tuh lembut dan manis. Penyajiannya hangat, kulitnya lentur, dan sausnya kental banget.
  2. Lumpia goreng dengan sensasi kriuk-kriuk dari kulitnya menjadi surga kecil di mulut mungil.

Tinggal pilih yang sesuai dengan preferensi wisata kuliner kalian saja. Kalau aku sih, lebih suka yang ada sensasi kriuk-kriuknya gitu. Beda sama temanku yang orang Palembang. Doi lebih suka lumpia basah. Hehehe….

Mau Coba? Ini Rekomendasi Lumpia Semarang Legend!

Beberapa kali nemenin rekan kerjaku dari kantor perwakilan yang sedang dinas ke Semarang cari lumpia, aku jadi punya beberapa rekomendasi nih, Cuti Lovers.

Kalau kalian pingin nyobain lumpia pas lagi main ke Semarang, kalian bisa kunjungi tempat-tempat legendarisnya, yaitu:

1. Lumpia Gang Lombok

Kalau kubilang ya, tempat ini tuh semacam leluhurnya semua lumpia di Semarang. Resepnya turun-temurun sejak zaman Tjoa Thay Yoe dan Mbok Wasih.

Warungnya emang terlihat kecil. Tapi, karena terkenal sebagai warung lumpia tertua, orang-orang jadi nggak keberatan buat ngantri.

Bukanya setiap hari. Mulai pukul tujuh pagi sampai pukul empat atau lima sore. Alamatnya di Jl. Gang Lombok No. 11, dekat Klenteng Tay Kak Sie.

2. Lumpia Mbak Lien

Loenpia Mbak Lien

Mereka melabeli warungnya sebagai lumpia Semarang ter-otentik. Sudah gitu, mereka menyediakan tempat duduk di area terbuka gitu. Bisalah jadi tempat nongkrong juga.

Kalau jam bukanya sih sama kayak Lumpia Gang Lombok. Cuma, waktu tutupnya lebih panjang. Mereka baru tutup pukul setengah sepuluh malam.

Baca juga:  BBQ Lamb KL Kemensah Ingatkan pada Piknik dan Makan Di Sungai

Alamatnya Lumpia Mbak Liem di Jl. Pemuda Gg. Grajen No.1, Pandansari, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50138.

3. Lumpia Cik Me Me

Loenpia Cik Me Me

Menurut website resminya, Cik Meme merupakan keturunan dari pelopor lumpia Semarang (Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasie). Kayak kebayang aja gitu seberapa otentiknya lumpia mereka.

Terus, mereka juga menyebut meski lidah kerap kali berdusta. Tapi, soal rasa, lidah nggak pernah dusta. Nggak heran mereka dapat rating 4,9/5 di ulasan Google.

Seperti yang lainnya, mereka juga buka setiap hari, mulai pukul lima pagi sampai pukul sepuluh malam. Mereka juga menyediakan ruang makan pribadi gitu.

Alamatnya di Jl. Gajahmada No.107, Miroto, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50135.

Kalau mau bawa pulang buat oleh-oleh, ada tipsnya lho, Cuti Lovers, antara lain:

  1. Beli yang masih agak hangat dan simpan di suhu ruang maksimal satu hari.
  2. Setelah itu, masuk kulkas biar awet. Nanti tinggal goreng lagi biar renyahnya balik.

Ketiga tempat itu sudah pernah dicobain sama temanku, sewaktu mereka dinas ke Semarang.

Lumpia Semarang dan Kenangan Bersamanya

Sekarang, tiap kali aku ke Semarang lagi, entah buat urusan kerja, jalan-jalan, atau sekadar ngopi di Kota Lama, aku selalu menyempatkan beli lumpia.

Bukan cuma karena enak, tapi karena ada potongan kenangan di setiap gigitan. Tentang masa kerja yang sibuk tapi hangat, tentang teman-teman dari berbagai kota, dan tentang gimana aroma rebung bisa bikin aku merasa “pulang”.

Kadang yang kita rindukan bukan cuma tempatnya, tapi juga rasanya, dan cerita-cerita kecil yang menempel di sana.

Jadi, kalau nanti kalian jalan ke Semarang, jangan cuma bawa pulang oleh-oleh. Bawa juga ceritanya, Cuti Lovers.

Soalnya, seperti lumpia, kenangan yang terbungkus sederhana itu kadang justru yang paling berharga. Benar nggak?

Tinggalkan komentar