Hai, Cuti Lovers! Sudah pada memikirkan mau cuti kemana nggak nih pas libur idul adha nanti? Tapi, ingat ya! Saat cuti nanti, kalian tetap harus memperhatikan etika traveling lho. Kenapa?
Soalnya, aku pernah tuh duduk di sebuah kafe kecil dekat tempat wisata saat liburan beberapa waktu lalu. Tempatnya memang sederhana, nggak terlalu ramai juga, tapi suasananya tenang banget. Aku suka.
Pas nengok ke luar jendela, aku bisa melihat jalanan kecil dengan beberapa wisatawan yang lagi jalan santai sambil menikmati suasana sore.
Awalnya semuanya terasa menyenangkan banget. Sampai sekelompok turis datang dan berbicara sangat keras. Mengganggu banget.
Mereka ketawa, memutar video dengan volume tinggi, lalu sibuk mengambil foto tanpa peduli kalau ada orang lain yang sedang menikmati waktu dengan tenang. Rasanya gemas banget.
Harusnya, mereka tuh mikir kalau traveling bukan cuma soal datang ke tempat baru, berburu foto estetik, atau mengunjungi sebanyak mungkin destinasi.
Mereka juga harus menjaga etika traveling yang sebenarnya terlihat sepele, tapi punya dampak yang besar sekali. Jangan sampai mengganggu wisatawan lain, atau lebih parah lagi sampai menyinggung warga lokal!
Daftar Isi
Etika Traveling yang Sering Terlupakan
Semakin sering pergi ke tempat baru, aku semakin sadar kalau pengalaman traveling yang menyenangkan ternyata bukan cuma soal destinasi bagus atau itinerary yang rapi.
Ada hal lain yang diam-diam punya pengaruh besar, yaitu gimana cara kita bersikap selama perjalanan.
Lucunya, banyak etika traveling yang sebenarnya terlihat sederhana malah sering dianggap sepele. Padahal, justru dari kebiasaan kecil itulah orang lain bisa merasa nyaman atau malah terganggu.
Mulai dari cara berbicara di tempat umum, menghormati budaya lokal, sampai menjaga kebersihan area wisata, semuanya punya peran penting supaya perjalanan tetap menyenangkan untuk semua orang.
Dan jujur saja, aku sendiri juga baru menyadari banyak hal setelah beberapa kali traveling. Gimana dengan kalian, Cuti Lovers? Masih ada yang suka menyepelekan etika perjalanan? Atau malah ada yang belum tahu apa saja etikanya?
1. Nggak Semua Tempat Harus Dijadikan Konten

Sekarang ini, rasanya hampir semua orang ingin mengabadikan perjalanan mereka. Maklumlah ya. Sudah eranya konten kreator gitu lho.
Jujur saja, aku juga pinginnya begitu. Mengabadikan cerita perjalanan dalam foto dan video. Kadang ada rasa senang saat berhasil mendapatkan foto bagus di tempat baru.
Tapi, makin sering traveling, aku kayak makin sadar kalau nggak semua tempat nyaman atau bisa kujadikan latar konten. Entah karena emang ada aturan yang nggak membolehkan ada kamera saat berkunjung atau demi kenyamanan pribadi saat kunjungan.
Misalnya, aku pernah tuh datang ke salah satu tempat bersejarah yang suasananya terasa cukup sakral. Aku nggak enak pegang kamera buat sekedar mengabadikan momen.
Sayangnya, ada beberapa wisatawan yang malah sibuk bikin video dengan suara keras dan pose berlebihan. Dalam hatiku merutuki tingkah mereka.
Gimanalah, wong di sekitar mereka ada pengunjung lain yang sedang menikmati suasana dengan tenang lho. Mereka malah kayak nggak ada rasa menghormati sedikitpun. ‘Kan menyebalkan ya.
Dari situ aku belajar kalau menghormati tempat yang kukunjungi itu penting banget. Apalagi kalau sedang mengunjungi tempat ibadah, situs budaya, atau area yang punya nilai sejarah tinggi.
Makanya, kalau biasanya sebelum pergi aku sibuk mencari daftar objek wisata yang menarik, sekarang aku juga mulai membiasakan diri membaca aturan dan budaya di tempat tersebut.
Kelihatannya memang sepele banget, tapi itu bantu aku jadi traveler yang lebih menghargai lingkungan sekitar. Coba deh, Cuti Lovers!
2. Menjaga Volume Suara Ternyata Penting
Hal lain yang sering dianggap sepele adalah volume suara. Entah volume suara saat ngobrol atau mendengarkan dan melihat video musik.
Jadi, aku pernah naik kereta saat traveling dan suasananya sebenarnya cukup tenang. Yah, setenang ada di kereta gitulah. Kalian paham ‘kan maksudku, Cuti Lovers?
Sebenarnya, nggak yang gimana-gimana sih. Aku hanya melihat banyak orang duduk santai sambil menikmati perjalanan. Sayangnya, ada beberapa penumpang yang malah ngobrol sangat keras, kayak lagi di rumahnya sendiri.
Mungkin bagi mereka itu biasa saja. Tapi buat orang lain, sikap mereka bikin suasana jadi terasa kurang nyaman.
Kadang hal kecil kayak mengecilkan volume suara, memakai earphone saat menonton video, atau nggak tertawa terlalu keras bisa bikin kita terlihat lebih sopan.
Dan anehnya, justru hal-hal sederhana kayak gitu sering diingat oleh orang lokal lho, Cuti Lovers.
3. Jangan Tinggalkan Sampah, Sekecil Apa Pun

Aku pernah datang ke tempat yang pemandangannya cantik sekali. Lautnya biru, udaranya segar, dan suasananya benar-benar bikin tenang.
Tapi di sudut tertentu, ada sampah plastik dan bungkus makanan berserakan. Rasanya sedih banget.
Orang yang buang sampah di sana harusnya melakukan perjalanan sama sahabatku. Dia pasti akan kena omel habis-habisan kalau sampahnya dibuang sembarangan begitu.
Aku pernah kena omel soal sampah ini. Doi maksa aku ngantongin sampah plastik milikku sendiri dan buang nanti kalau bertemu sama tempat sampah.
Katanya, kita datang jauh-jauh demi menikmati keindahan suatu tempat, jangan malah ikut merusaknya.
Dia juga bilang, menjaga kebersihan saat traveling sebenarnya bukan hal sulit. Cukup bawa kantong kecil untuk sampah pribadi saja sudah cukup membantu. Atau kantongin dulu sampahnya dan baru buang kalau ada tempat sampah.
Sekarang, aku selalu mencoba memastikan buat nggak meninggalkan apapun setelah selesai makan atau beristirahat di area wisata. Awalnya, biar nggak kena omel sahabatku. Lama-kelamaan malah jadi kebiasaan.
Soalnya pada akhirnya, tempat wisata bukan cuma untuk dinikmati hari ini, tapi juga dijaga supaya orang lain masih bisa menikmatinya nanti lho, Cuti Lovers.
4. Menghormati Budaya Lokal Bisa Bikin Perjalanan Lebih Menyenangkan
Salah satu hal yang paling aku suka dari traveling adalah melihat kebiasaan baru. Lebih-lebih kalau itu budaya lokal.
Ada tempat yang masyarakatnya sangat ramah. Ada juga daerah yang lebih tenang dan nggak terlalu ekspresif. Menurutku, semua punya karakter masing-masing.
Makanya, aku mulai percaya kalau traveler yang baik bukan traveler yang merasa paling benar, tapi traveler yang mau menyesuaikan diri.
Hal-hal sesederhana kayak berpakaian sopan di tempat tertentu, nggak berbicara kasar, atau mengikuti aturan lokal sebenarnya menunjukkan rasa hormat.
Aku pernah ngobrol dengan seorang pemilik penginapan kecil. Dia bilang sendiri kalau sebenarnya dia senang sama wisatawan yang mau menghargai budaya lokal.
Kalimat itu sederhana, tapi meninggalkan kesan yang dalam buatku. Aku jadi mikir kalau traveling bukan cuma tentang melihat tempat baru, tapi juga belajar memahami cara hidup orang lain.
5. Nggak Semua Orang Harus Mengerti Bahasa Kita
Dulu aku sempat berpikir kalau bahasa bisa jadi hambatan terbesar saat traveling. Sebenarnya, nggak salah juga. Cuma kenyataannya lebih dari itu.
Maksudku, bukan soal bahasanya. Tapi, keramahanlah yang jauh lebih penting dari apapun.
Aku pernah tersesat di sebuah daerah wisata dan mencoba bertanya kepada warga lokal dengan bahasa yang sangat terbatas.
Meski pengucapanku berantakan, mereka tetap mau bantu dengan ramah.
Sejak saat itu aku mulai terbiasa mempelajari kata sederhana sebelum pergi traveling. Aku berusaha minimal bisa mengucapkan terima kasih, permisi, atau salam di sana.
Kelihatannya memang hal yang kecil, tapi seringkali itu bikin interaksi terasa lebih hangat.
Sama kayak saat kita senang kalau orang lain berusaha menghargai budaya kita, warga lokal juga biasanya menghargai usaha kecil wisatawan.
6. Mengambil Foto Orang Nggak Bisa Sembarangan

Ini juga termasuk etika traveling yang sering terlupakan. Kadang karena terlalu fokus bikin konten, kita jadi lupa kalau nggak semua orang nyaman difoto.
Lagian, setiap orang punya privasi masing-masing. Kita nggak bisa dengan bebas membagikan potret mereka tanpa ijin.
Aku pernah melihat wisatawan mengambil foto pedagang lokal dari jarak dekat tanpa izin. Wajah si pedagang terlihat kurang nyaman, tapi wisatawan itu tetap sibuk memotret.
Duh ya. Aku gemas sekali pas melihatnya. Kayak, masa sih mereka nggak bisa merasakan rasa nggak nyaman yang dirasakan sama pedagang?
Harusnya mereka sadar gitu lho. Kamera nggak bisa jadi alasan untuk melanggar privasi orang lain. Nggak peduli dengan alasan apapun.
Makanya, aku sih berharap kalau Cuti Lovers lagi traveling, coba lebih hati-hati ya! Maksudku, kalau memang pingin memotret seseorang, minimal minta izin dulu.
Selain lebih sopan, rasanya juga lebih nyaman.
Dan lucunya, sering kali momen terbaik dalam perjalanan justru bukan yang berhasil masuk kamera, tapi yang benar-benar kita nikmati secara langsung.
Traveling Bukan Cuma Soal Destinasi
Semakin sering traveling, aku makin percaya kalau perjalanan yang menyenangkan bukan ditentukan oleh seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi.
Bukan juga soal hotel paling mewah atau itinerary paling padat.
Kadang perjalanan terasa berkesan justru karena hal-hal sederhana. Bertemu orang baru, belajar budaya lain, atau merasa diterima di tempat asing.
Bahkan saat menikmati wisata kuliner di warung kecil pinggir jalan, aku pernah merasa jauh lebih bahagia ketimbang makan di tempat mahal. Tanya dong kenapa!
Soalnya, aku berpikir suasananya hangat dan orang-orangnya ramah. Dan menurutku, keramahan itu sering muncul saat wisatawan juga tahu cara menghargai tempat yang mereka datangi.
Oh ya, kalau kamu suka membaca artikel ringan seputar pengembangan diri dan belajar hal baru dari pengalaman sehari-hari, sebenarnya topik seperti cara bisnis properti bagi pemula juga menarik untuk dipelajari.
Siapa tahu dari sana kita jadi sadar kalau memahami lingkungan dan karakter orang lain ternyata penting, baik saat traveling maupun saat membangun relasi dalam dunia kerja dan bisnis. Iya nggak, Cuti Lovers?
Pada akhirnya, etika traveling memang terlihat sederhana. Menjaga suara. Nggak membuang sampah sembarangan. Menghormati budaya lokal. Nggak asal mengambil foto.
Tapi justru dari hal-hal kecil seperti itu, kualitas seorang traveler jadi bisa terlihat. Soalnya, traveling bukan cuma tentang ke mana kita pergi, tapi juga tentang gimana kita bersikap selama perjalanan.
So, mau liburan atau cuti kemana kalian pas idul adha nanti, Cuti Lovers? Sebutin di kolom komentar dong! Mana tahu bisa liburan bareng ntar. Hehehe…

