Hai, Cuti Lovers! Kalian pernah bayangin punya karir traveling nggak sih? Atau emang lagi bergelut di sana.
Gimana rasanya? Pasti menyenangkan sekali ya? Secara, siapa juga yang nggak mau healing sambil dapat gaji? Iya nggak?
Kerjanya kayak nongkrong di cafe yang ada di Bali. Meeting online dengan background laut beneran bukan sekedar gambar. Seolah-olah, hidupnya cuma seputar jalan-jalan doang padahal dibayar.
Sayangnya, nggak semua orang cocok berkarir di bidang traveling. Ada yang bisa menebak alasannya nggak nih? Tulis pendapat kalian di kolom komentar dong, Cuti Lovers!
Biar kita bisa diskusi. Soalnya di artikel ini aku bakalan bahas tentang itu. Baca sampai kelar ya!
Daftar Isi
Traveling Itu Nggak Selalu Berisi Liburan
Aku dulu pernah pingin berkarir di bidang traveling. Soalnya, aku sempat mengira kalau karier tersebut bikin hidupku kayak liburan tanpa akhir gitu deh.
Bisa bangun tidur di tempat baru. Eksplor kota yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Nggak lupa abadikan momen dalam foto-foto cantik. Terus menulis atau bikin konten cerita perjalanannya.
Sayangnya, apa yang kupikirkan ternyata berbeda dari kenyataannya.
Yang aku nggak tahu tuh, banyak orang yang bekerja di bidang traveling justru sibuk mengejar deadline di bandara.
Tengah malam, bukannya tidur karena kelelahan eh kita malah sibuk mengedit konten yang menarik.
Belum lagi, tuntutan pekerjaan bikin kita kudu tetap bekerja meski tubuh sudah lelah setelah perjalanan panjang.
Huft. Traveling nggak lagi berisi liburan doang, Cuti Lovers. Lama-kelamaan berubah jadi rutinitas kerja kayak biasanya yang bisa melelahkan.
Kalau sudah begini, aku jadi mikir. Mungkin benar, nggak semua orang akan menikmati perubahan tersebut.
Alasan Kenapa Nggak Semua Orang Cocok Punya Karier Traveling
Tahu nggak sih, Cuti Lovers? Karir traveling tuh mencakup banyak profesi lho, mulai dari travel blogger, travel writer, content creator perjalanan, fotografer wisata, tour leader, sampai pekerja remote yang memilih hidup sebagai digital nomad.
Beberapa di antaranya kelihatan cukup fleksibel, tapi di balik itu ada tuntutan yang cukup serius.
Travel blogger, misalnya, pekerjaan mereka nggak hanya urusan traveling lalu menulis cerita doang.
Ada proses riset destinasi, negosiasi kerja sama dengan brand atau hotel, produksi konten, editing foto dan video, sampai menjaga konsistensi publikasi biar tetap relevan di algoritma media sosial maupun mesin pencari.
Begitu juga dengan digital nomad.
Meski katakanlah bisa kerja dari mana saja, mereka tetap harus menyesuaikan jam kerja lintas zona waktu, koneksi internet yang stabil, dan menjaga produktivitas di lingkungan yang terus berubah.
Jadi, terjun di karir traveling bukan cuma sekedar apakah kalian menyukai perjalanan yang dapat bayaran.
Ia juga tentang kemampuan bekerja mandiri, mengelola sesuatu yang nggak pasti, dan tetap profesional bahkan ketika suasana terasa kayak liburan.
Makanya kubilang, nggak semua orang merasa cocok punya karir traveling.
Alasannya sih bukan cuma perkara mereka kurang berani ya. Tapi, lebih dari itu, setiap orang punya kebutuhan hidup, ritme kerja, dan definisi kenyamanan yang berbeda.
Di artikel ini, aku sudah menuliskan 5 alasan kenapa nggak semua orang cocok punya karir traveling. Kalau kalian punya pendapat lain, bisa tulis di kolom komentar ya, Cuti Lovers!
1. Adaptasi yang Nggak Pernah Berhenti

Nggak semua orang punya kemampuan cepat beradaptasi di lingkungan baru.
Aku pribadi tuh tipe orang yang butuh waktu untuk merasa nyaman di suatu tempat. Kayak, kudu punya warung langganan dulu, hafal jalan pulang biar nggak khawatir nyasar, familiar sama lingkungan sekitar.
Semua itu, mana bisa cepat ‘kan ya? Pasti butuh waktulah. Kalau aku sih minimal tiga harianlah.
Karir traveling mana bisa begitu. Tuntutan adaptasinya gedhe banget. Belum sempat merasa nyaman, eh sudah harus pindah lagi.
Mungkin bagi sebagian orang, kondisi begini tuh bisa jadi sebuah petualangan yang seru. Tapi, nggak bagi sebagian lainnya.
Bisa jadi, seringnya berpindah tanpa kondisi nyaman bisa jadi sumber kelelahan mental yang nggak terlihat.
2. Lelah yang Jarang Terlihat di Kamera
Kalau kita hanya melihat konten orang-orang yang berprofesi di bidang traveling di media sosial, emang kayak menakjubkan semua.
Foto sunset. Pemandangan yang wow. Belum lagi, senyum atau tawa lepas di depan tempat wisata.
Coba deh sesekali kalian cari tahu apa saja yang nggak terlihat di depan kamera!
Mereka kudu menggendong tas atau menyeret koper yang berat. Jadwalnya padat. Masih harus memikirkan kewajiban untuk membuat konten nggak peduli saat tubuh sudah sangat ingin beristirahat.
Jadi, sebelum memutuskan buat terjun di karir traveling, pastikan dulu ke diri sendiri. Apakah kalian ingin traveling atau hanya menyukai gambaran indahnya doang?
3. Stabilitas Finansial Nggak Selalu Pasti
Punya karir traveling tuh kudu paham. Mereka bakalan jalan bareng sama dunia freelancer atau project-based.
Dalam artian, pemasukan atau pendapatannya nanti bisa berubah setiap bulannya. Nggak tetap gitu lho.
Ada pasang-surut soal tawaran pekerjaan yang mampir.
Kondisi kayak begini buat orang yang menyukai kepastian finansial bakalan kerasa menegangkan banget. Apalagi kalau sudah ngomongin kebutuhan dan tanggungan.
Jujurly, aku masih dalam golongan orang-orang yang butuh rasa aman soal pendapatan. Masih ada cicilan yang nggak bisa nunggu. Hehehe….
4. Kesepian di Tengah Banyak Tempat Indah

Point ini memang jarang banget dibahas. Ya, gimana. Orang-orang mah percayanya kalau traveling pasti minimal ketemu orang baru.
Kayak, nggak akan mungkin merasa kesepian.
Yang sering terlupakan adalah hubungan pertemanan saat traveling tuh nggak permanen. Paling ya cuma sementara pas traveling doang.
Begitu kalian pindah kota ya kudu mulai lagi dari awal. Ketemu teman baru lagi. Lalu pisah lagi di akhir masa traveling.
Jarang banget ketemu teman yang beneran cocok dan bisa berlanjut sampai seterusnya. Kalaupun ketemu nih, ya udah gitu. Susah lagi nyari waktu buat kopi darat (kopdar) lagi.
Ingat! Tuntutan pekerjaan kalian yang hampir selalu melakukan perjalanan panjang. Kayak kalian tuh nggak benar-benar punya tempat buat pulang yang tetap gitu nggak sih?
Percaya atau nggak, nggak semua orang nyaman dengan kehidupan yang begitu.
5. Disiplin Tinggi Tanpa Ada yang Mengawasi
Buat yang sudah terbiasa menjadi freelancer atau bekerja remote mungkin sudah pada menyadari kerjaannya yang terdengar santai.
Sudahlah kita nggak harus masuk kantor eh nggak punya atasan yang mengawasi secara langsung pula.
Tapi bagiku malah justru di situlah letak tantangannya. Apalagi bagi orang yang punya karir di bidang traveling. Kok bisa?
Jadi begini lho, karir traveling tuh sudah pasti akan selalu menghadapi situasi yang serasa liburan. Iya ‘kan?
Masalahnya, di tengah suasana liburan begitu rasanya pasti berat banget untuk tetap produktif. Maunya mah santai-santai saja.
Oleh karena itu, karir traveling butuh disiplin pribadi yang sangat tinggi. Biar urusan pekerjaan nggak terhambat.
Dari sini sudah pada tahu ‘kan kenapa nggak semua orang cocok dengan pekerjaan ini?
Ya soalnya, nggak semua orang siap dengan tanggung jawab yang se-gedhe itu setiap hari.
Mungkin Aku Cocok, Tapi Dengan Cara Sendiri
Pertanyaan berikutnya adalah apakah diriku menyerah dengan keinginan punya karir di bidang traveling?
Sebenarnya, aku sudah memikirkan semuanya. Urusan karir traveling tuh bukan cuma soal cocok atau nggak secara mutlak.
Mungkin aku hanya perlu mencari formula yang tepat buatku. Kayak, aku nggak harus jadi digital nomad penuh waktu. Atau nggak harus hidup berpindah kota terus-terusan.
Dalam artian, aku tetap bisa berkarir di bidang traveling sambil tetap punya rutinitas yang bikin aku merasa stabil secara finansial.
Punya Karier Traveling Bukan Sesuatu Lebih Baik, Cuma Pilihan yang Berbeda
Kalau dulu aku sempat merasa tertinggal pas lihat orang lain hidupnya bebas di berbagai tempat.
Hidup serasa liburan terus tapi masih dapat bayaran memang bikin iri ‘kan?
Sekarang aku sudah mengerti kalau karir traveling bukan ngomongin soal level kehidupan yang lebih tinggi. Jawabannya, se-simpel pilihan hidup yang berbeda saja.
Ada yang merasa bahagia saat ada tuntutan untuk selalu berpindah kota. Tapi, ada juga yang merasa hidupnya baik-baik saja ketika menetap di satu tempat.
Dan percayalah, Cuti Lovers! Apapun pilihannya, dua hal itu tadi sama-sama valid kok.
Pada Akhirnya, Ini Bukan Tentang Traveling
Apakah aku masih ingin menjelajah dunia sambil menulis dari tempat-tempat baru?
Jelas. Aku pikir masih menyenangkan punya penghasilan di bidang traveling yang kusuka.
Hanya saja, sekarang aku nggak lagi merasa kudu wajib mengikuti versi karir traveling milik orang lain.
Soalnya, aku merasa tujuan sebenarnya nggak lagi sekedar bekerja sambil traveling. Tapi, gimana aku bisa menemukan cara hidup yang paling membuatku merasa nyaman untuk jadi diriku sendiri.
Pertama-tama yang perlu kulakukan adalah menerima bahwa nggak semua orang cocok punya karir traveling untuk memahami jalan hidup mereka.
Sampai jumpa di tulisanku berikutnya ya, Cuti Lovers! Kalau kalian ada ide topik yang bisa kutulis untuk artikel selanjutnya, boleh tulis di kolom komentar ya!






Waduh, saya sudah nyerah sebelum bertanding. Boro-boro mau fokus di dunia Travelling, tulisan tentang tempat wisata, resto atau cafe lucu yang saya kunjungi pun malesnya minta ampun buat dijadikan bahan tulisan. Huhuhu
Makanya saya salut banget sama full time travel blogger itu. Kemampuan memilih lalu mengedit dan mempublikasikan foto atau video yang menarik itu salah satu skill yang luar biasa.
Aku mengelola blog khusus traveling tapi sebenarnya nggak terlalu suka traveling juga nah kan gimana mau isi konten blognya coba wkwkwk. Soalnya habis traveling gitu biasa recoverynya bisa semingguan lebih…
Kalau sukanya bener-bener menikmati liburan, memang sebaiknya gak berkarir di traveling. Karena kalau sampai dijadikan karir, akan terikat deadline dan segala persyaratan lainnya. Tapi, bukan berarti kerja di traveling jadi gak asik.
“Ia juga tentang kemampuan bekerja mandiri, mengelola sesuatu yang nggak pasti, dan tetap profesional bahkan ketika suasana terasa kayak liburan.” Saya suka banget dengan kalimat ini. Dan pada kenyataannya begitu. Karir di dunia traveling atau yang melibatkan traveling tidaklah 100% menyenangkan seperti apa yang dibayangkan banyak orang. Tantangannya jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan publik.
Di tahun 90-an saya pernah di posisi itu. Harus organize banyak meeting di luar daerah, luar negeri, dan harus mampu bekerja mandiri sembari membangun network agar tidak berasa sendiri. Dan itu butuh perjuangan karena perginya bisa 4-6 kali dalam setahun. Fisik dan pikiran juga terkuras karena kita berada di negeri orang lain. Harus pandai menempatkan diri, membuka kesempatan bertemu orang baru, mengurus keuangan, dan tak takut menjelajah.
Sampai saat ini, saya masih menempatkan traveling sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari. Selain karena memang profesinya travel blogger, saya senang berinteraksi dengan dunia luar, melihat banyak tempat baru, dan memotret lalu menuliskannya.
saya nih , termasuk orang yang gak cocok berkarir traveling
karena mudah mager. males perjalanannya, maunya langsung sampai di tempat 😀
walau impian solo traveling sangat menggebu
dan saya punya kebiasaan jelek: menumpuk foto dan video, gak langsung dikerjain dan diunggah. Parah ya?
Dulu pernah kepoin travel blogger. Kayaknya seru nih, jalan² sambil kerja atau kerjanya jalan². Tapi pas baca “algoritma”…hum kayaknya engga sanggup deh dng upaya di baliknya. Mana sekrng pengennya slow traveller pula. Santai aja engga buru²…
Salut yg menjalani jadi travel blogger…
Yang terlihat di sosial media ngga seperti kenyataannya. Perjalanan jauh, kendala transportasi, penginapan, ketemu orang baru dan masih banyak lagi yang bisa bikin mood naik turun. Belum deadline, kalo ngga kuat mental susah deh. Bisa jadi yang suka travelling ngga cocok juga berkarir di travelling.
Ini bener banget mbak, sebelum jadi pelatih keong saya juga pernah menjalani profesi sebagai Tour Leader, awalnya saya kira bakal enak nih bisa pergi kemana mana dan di bayar pula, tapi kenyataan nya mah emang lumayan cape, kita harus selalu ada buat mereka yang kita layani, boro2 mau selfi malah sama sibuk motretin klien, pas jam makan sibuk ngurusin makanan klien, kita cuma makan nasi kotak, udah mah kadang2 berbulan-bulan ga dapet jib. thats why sepertinya saya ga cocok juga berkarir jadi tour ledaer
Karena kebanyakan yang terlihat di depan kamera adalah keindahan dan kenyamanan yang didapatkan namun peluh lelah semua tersembunyi..
Rasanya setiap pekerjaan ada plus minus ny, setiap pekerjaan butuh effort untuk mendapatkan hasil terbaik…
Kalo boleh berminpi aku pengen juga sie mencoba dunia pekerjaan traveller ini, aku bayangin pasti awalnya rieweh belum menemukan ritme namun seiring berjalannya waktu pasti kita bisa menemukan kenyamanannya
Sebagaimana orang-orang pada umumnya, saya juga demen ngetrip.
Apalagi kalo gratisan 🙂
Hanya saja, kalau beneran spesifik, bekerja di ranah wisata, hmm.. kayaknya saya belum bisa.
karena butuh adaptasi dan resilience yang luar biasa.
Poin pertama dan kedua, aku masih bisa hadapi mbak. Karena kebetulan ku udah merantau cukup lama, jadi kalo disuruh atau bahkan dipaksa adaptasi di tempat baru dengan cepat, rasanya bukan hal yang berat buatku.
Cuma ya memang, masalah terberatnya tuh ada di poin ketiga. Soalnya traveling itu kan memang butuh keuangan yang super duper stabil ya. Sementara hal itu sampai sekarang belum aku achieve, heuheuheu.
Berharap kelak bisa dapet kerjaan yang lebih stable dan kalo bisa remote si.
Biar sambil kerja, sambil bisa traveling kemana-mana juga, hihihi
Itu dia alasan yang disampaikan oleh Mba sangat relevan banget. Aku menyadari diriku ini tipe yang butuh kepastian penghasilan, makanya aku jadikan ngonten travelling di blog dan media sosial sebatas hobi dan sambilan saja, tidak di fokuskan jadi pendapatan utama.
Menjadi freelance saja susah dengan ketidakpastian penghasilan. Belum lagi saat menjadi karir traveling, harus bepergian ke banyak tempat, dan mesti terlihat bahagia di kamera itu menantang banget sih. Ada masanya bepergian itu bikin badmood, lelah, dst. Tetapi, memang banyak menyenangkannya juga ya.
Intinya, gimana cara menikmati dan mengaturnya. Terpenting utamakan kebahagiaan dan kenyamanan diri.
Menjadi travel blogger / content creator di bidang travel / profesi lain yg jalan2 itu ternyata gak semudah yg dibayangkan yaa. Harus kejar deadline, multitasking, dll.
Memang hobi yang dibayar kadang mengurangi kenikmatan.
Balik lagi ke konsistennya juga ya.
Ada yang cocok dengan karier ini, karena dianya terus secara berkala update konten, jadinya orang lain juga tahu keberadaannya.
Namun ada yang juga yang kepayahan, karena satu dan lain hal.
Tidak Semua orang punya bakat untuk travelling dan banyak juga yang lebih suka untuk bekerja di satu tempat bersama dengan dia tinggal sehingga travelling menjadi sebuah cobaan dan jabatan tangan yang mendasari keputusannya tapi apabila memang harus travelling mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan baik dan benar supaya bisa bekerja dengan maksimal
Kalau saya sepertinya kirang cocok untuk berkarir di dunia traveling. Karena tipe orang yang susah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan jujur, saya lebih suka tipe perjalanan yang langsung sampai ke tempat tujuan untuk menikmati destinasinya, daripada harus menikmati perjalanannya. Jadi kalau berwisata biasanya saya menghimpun energi (baca tidur) sepanjang perjalanan. Begitu sampai destinasi baru dah mulai mbolang he…he…
Dari lima poin di atas, nomor 3 sih yang paling berat. Karena aku terbiasa dengan pemasukan yang pasti, bahkan dari sejak anak-anak. Mulai uang jajan harian, terus naik mingguan dan berubah jadi bulanan. Selama bekerja dan menikah pun terbiasa dengan gaji dan pemasukan bulanan.
Terus ada satu lagi yang bikin berat, anak dan pasangan. Kayanya karir travelling gini lebih cocok buat yang masih single. Kalau sudah menikah kasihan sih ditinggal mulu pasangan dan anaknya. Itu kalau buat aku hehehehe…
ahhh jadi inget kerjaan dulu waktu jadi jurnalis yang kudu berangkat kesono kemari. Selalu dibilangin enak dan seru banget. Padahal ada deadline yang selalu menghantui kemana mana dan selalu dikejar waktu. Kadang lelahnya ngga cuman fisik namun jiwa raga hehehe
Sungguh rumput tetangga terlihat lebih hijau… tapi disini aku belajar banget sih bagaimana harus beradaptasi dan bertahan serta memilih pekerjaan yang cocok setelah melewati berbagai macam fase hidup hehehe
saya itu sering berpikiran, Mbak. Betapa enaknya orang yang karir traveling. jalan-jalan terus, mengunjungi banyak tempat, digaji pula.
Dan setelah membaca tulisan ini, saya langsung merenung. Hmm.. apa yang saya lihat selama ini, pastila tak seindah yang mereka rasakan. Banyak hal yang saya tidak ketahui. Bagaimana mereksa mengejar deadline, sampai segala kesmepatan digunakan buat menulis dan terus di depan laptop. akhirnya mungkin saya tetatp akan jalan-jalan, menikmati keindahan alam dan tempat yang ingin saya tuju, tapi dengan santai dna tenang, tanpa harus dituntut ini itu hehehe.
Saya suka traveling tipis-tipis dan menuliskannya di blog, just for hobby. Sekali-kali ada job yang berhubungan dengan dunia traveling, ya disyukuri aja, alhamdulillah. Tapi kalau full time punya karir di dunia traveling memang sepertinya harus diperhitungkan secara matang karena memang ini tak akan hanya menjadi traveling saja, tetapi berbanding lurus dengan tanggung jawab nya juga, ya
Traveling kalau bukan kerja emang nggak semenyenangkan seperti yang terlihat dipermukaan. Traveling jadi hobi lebih cocok. Bener banget, banyak catetan kalau mau kerja di bidang Traveling. Kadang yang paling kerasa itu capek karena harus nulis, ngedit, kalau video ya take video.
Betul yaah.. rasanya akalu melihat orang dengan kontennya tuh sangat berdedikasi sekalii…tapi dibalik itu, mereka pasti penuh perjuangan pissaan..
MashaAllah.. kita suka pada “hasil”nya tanpa tau “proses”nya di balik layar.
Apalagi travelling kan rasanya pingin santai yaah..
Kalau ada hubungannya sama pekerjaan, pasti tanggungjawabnya uda beda.
Tapii..namanya bekerja dengan hobi yang dibayar ini menjadi more FUN meski juga more challenging.
Kalau aku bukan gak cocok secara fisik, finansial saja masalahnya
Mau berandai juga takut jatuh dalam ketidaksyukuran
Jadi saya senang kalau jalan jalan meski memang ada lelah tetapi semua terbayarkan dengan pengalaman tak terlupakan
Traveling yang dilakukan atas dasar keinginan sendiri jelas beda dengan traveling karena tuntutan pekerjaan. Saat kita traveling sendiri itu tidak ada beban apapun yang menempel, semua mengalir semaunya kita aja, bebas lepas.
Tapi beda lagi saat traveling karena tuntutan pekerjaan pasti ada to do list yang harus dikerjakan ada tanggung jawab yang melekat disana. Dan tidak semua orang mau dan mampu
Yaaa, kalau emang buat pekerjaan, mau nggak mau travelingnya bukan benar2 traveling karena ada tanggung jawab di dalamnya, mulai ngurusin orang hingga bikin konten2 😀
Memang kadang orang yang nggak tahu apa2 ngiranya ya kerjaannya enak2 aja, bisa keliling banyak tempat. Ini keknya juga salah satu risiko kerjaan hehe 😀
Emang butuh mental dan fisik yang tangguh karena pekerjaan di bidang ini tak semudah yang dikira orang2 ya. Paling penting memang ya sudah berusaha maksimal dan menikmati aja, karena lagi2namanya juga pekerjaan.
Benefitnya karena terbiasa ngurus orang nanti kalau traveling sendiri udah khatam stgep2nya 😀
Travelling itu sebenarnya hal yang mahal. Tdk semua org bs plesiran. Minimal hrs punya waktu. Dan tentu saja biaya utk menutupi kebutuhannya.
Smkn jauh destinasi travelling, smkn banyak waktu, tenaga dan sumber dana yang diperlukan.
Bisa sih dibuat seminimal mungkin. Tapi hasilnya akan beda. Beda kasus kalo cmn menghilangkan stres tipis2. Ckp traveling destinasi murah dekat rumah. Asal hati udh kembali bungah, duit pun tak terbuang dgn percuma.
bener ini mbak, dan aku ga cocok untuk karir travelling, ga seindah yang dibayangkan dan tampak di depan kamera, walaupun yang ga ada kamera pun juga ga gampang
beneran deh
Kalau mendengar keluh kesah teman yang berkarir di bidang travelling begitu ya aslinya sama aja sih, cuma kelebihannya memang dia bisa visit banyak tempat free, ya istilahnya orang Jawa sawang sinawang, ga seindah itulah