Hidden Cost Saat Traveling yang Diam-Diam Bikin Budget Jebol

Cuti Lovers, pasti sudah nggak sabar nungguin momen mudik lebaran kan ya? Ti-ati terperosok hidden cost saat traveling lho. Emang ada?

Jangan salah! Dulu, aku tuh orang yang kalau lihat ada tanggal merah atau libur langsung gercep cari tiket dan akomodasi yang lagi promo.

Urusan liburan dan healing memang harus nomor satu. Tapi, nggak boleh lewat dari budget traveling yang sudah kutetapkan.

Aku lupa kalau perkara traveling bukan cuma harus menyiapkan akomodasi dan tiket pesawat doang. Ada biaya tersembunyi lainnya yang malah makan isi dompet.

Makanya, kadang habis liburan, aku tuh bukannya pulang dengan senyum yang cerah ceria. Tapi, bermuram durja karena saldo rekening langsung lebih sepi yang seharusnya.

Tebakan kalian benar, Cuti Lovers. Yang bikin mahal biaya traveling bukan tiket dan penginapannya. Ada banyak pengeluaran kecil yang sering luput dari hitungan atau budget liburan.

Dan itulah yang dalam artikel ini kusebut sebagai hidden cost saat traveling. Yuk lanjut baca sampai akhir!

Daftar Isi

Kenapa Hidden Cost Sering Nggak Terhitung?

Padahal ‘kan sudah sering traveling. Kok ya masih terkecoh sama biaya-biaya tersembunyi sih?

Pertama, kalau aku karena memang terlalu fokus sama cost besarnya doang. Transportasi utama dan penginapan.

Kayak, ya udah sih. Kalau sudah ada dana buat kedua biaya itu liburan pasti amanlah.

Heh, Cuti Lovers. Sing eling kalian. Setelah tiket dan hotel, justru duit kalian malah baru mulai mengalir. Istilahnya bocor haluslah.

Kedua, aku terlalu optimis sama budget. Menghitungnya sesuai versi ideal doang, kayak:

  • Makan cukup sekian
  • Transportasi paling berapa
  • Nggak usah jajan yang aneh-aneh.

Akunya lupa. Kalau saat liburan tuh biasanya aku lebih longgar untuk urusan mengeluarkan uang. Semacam aji mumpung gitu lho. Kalian mengerti maksudku ‘kan, Cuti Lovers?

Ketiga, ini kadang yang nggak kusadari. Ada tekanan sosial saat liburan bareng teman. Gimana maksudnya?

Entah kalian mengalami atau nggak. Biasanya, saat liburan tuh ada saja momen yang bikin aku nggak enak-an kalau nggak ikutan. Rasanya harus beli meski seringnya nggak butuh.

Terakhir, terlalu impulsif saat solo trip. Ya gimana dong. Semua keputusan ada di tanganku. Mau kemana, beli apa, sampai makan apa. Semuanya bisa kulakukan sesuka hati.

Baca juga:  Tips Menyiapkan Dana Liburan Impian Tanpa Stres

Akhirnya, budget jadi over karena ada banyak pengeluaran yang nggak ada dalam budget alias hidden cost saat traveling.

Daftar Hidden Cost Saat Traveling yang Biasanya Terjadi Padaku

1. Transportasi Lokal yang Sering Kulupakan

solo traveling
solo traveling kadang nggak mikirin transportasi lokal

Aku pernah liburan akhir tahun ke Yogyakarta bareng teman kosku saat masih di Semarang. Kami berangkat naik travel gitu.

Dari kos, temanku sudah bilang kalau pas malam tahun barunya, kami akan menghabiskan waktu dengan camping barengan sama teman pramukanya.

Makanya, aku berpikir kami akan naik mobil mereka. Nggak mikirin lagi soal transportasi ke tempat wisata lainnya.

Padahal, kami bersama ya cuma pas malam tahun baruan itu doang. Setelah itu, kami berpisah di Malioboro. Mereka punya agenda sendiri yang tentu saja berbeda sama agendaku dan teman kosku.

Jadilah, aku masih harus mengeluarkan duit buat naik becak ke keraton, rental motor buat ke candi Borobudur, dan tempat wisata lainnya.

Alah, cuma ongkos becak ini. Paling berapa sih?

Hey, Esmeralda. Jangan sepele sama ongkos becak ya! Kalian nggak berpikir kalau naik becaknya cuma sekali doang ‘kan? Butuh berkali-kali dong. Bolak-balik.

Itu belum biaya parkir pas kami sudah rental motor lho ya. ‘Kan nggak mungkin motornya kami parkir sembarangan.

2. Biaya Bagasi & Overweight

Aku tuh emang jarang banget yang traveling sampai naik pesawat. Paling banter ya naik kereta doang. Nggak perlu bagasi.

Tapi, bukan berarti aku nggak bisa merasakan betapa tambah beratnya bawaanku saat berangkat dan pulang dari traveling. Kebayang dong kalau naik pesawat.

Biasanya, kalau dapat tiket murah dengan harga promo, nggak termasuk sama bagasi. Berangkatnya sih aman saja. Koper kabin saja cukup.

Tapi, nggak begitu dengan pulangnya ya, Cuti Lovers.

Ada tambahan oleh-oleh buat orang rumah. Titipan punya teman. Belum lagi, perintilan punya diri sendiri yang kebeli karena lucu doang.

Akhirnya, koper kabin membengkak. Bisa jadi, malah beli koper lain buat tempatnya segala oleh-oleh dan titipan tadi.

3. Nongkrong di Luar Perkiraan

Dalam bayanganku, kalau lagi liburan ya udah, aku paling mengunjungi tempat wisata. Lha kok pas jalan malah ketemu café yang estetik.

Baca juga:  Tabungan Aman, Masa Depan Cerah! Ini Strategi Menabung untuk TKI di Luar Negeri yang Efektif

Nongkrong deh di café. Ngopi cantik. Makan dessert yang kelihatan lucu dan menggiurkan di etalase.

Kalau sekali doang sih nggak masalah ya. Tapi, beda cerita kalau nongkrongnya berkali-kali. Boncos, cyin!

4. Biaya Admin & Kurs (Kalau ke Luar Negeri)

Bagian ini khusus buat yang belum melakukan perjalanan ke luar negeri. Apalagi kalau malas mencari informasi seputar bepergian ke Negara lain.

Aku sendiri sih mikirnya paling cuma nyiapin dana buat tiket pesawat dan hotel, selain transportasi dan makan.

Ternyata eh ternyata, ada biaya lainnya yang nggak sempat kupikirkan, antara lain:

  • Selisih kurs
  • Biaya transaksi kartu debit
  • Fee ATM luar negeri
  • Travel insurance

Angkanya memang nggak besar per itemnya. Tapi tetap saja, itu uang yang berkurang dari dompet atau ATMku. Namanya juga bocor halus. Hehehe

5. Biaya Tak Terduga

Melakukan traveling memang menyenangkan. Baik yang solo traveling atau yang perginya bersama teman. Tapi, nggak selamanya perjalanan akan sesuai sama rencana.

Kadang ada saja kejadian yang nggak terduga yang malah bikin kita merasa dompet bocor halus, misalnya:

  • Cuaca yang tadinya cerah mendadak hujan. Aku kehujanan dan malah masuk angin.
  • Pernah ada kejadian kakiku lecet karena sepatu. Berakhir, aku yang malah beli sandal baru.
  • Mungkin charger Nggak mungkin kita biarin ponsel kita tanpa charger ‘kan?
  • Laundry dadakan karena kehujanan bikin kita kehabisan baju bersih.

Aku tuh cuma mau bilang. Serapi apapun rencana liburan yang kurencanakan, aku selalu bikin budget untuk hal-hal yang nggak terduga. Kenapa?

Biar hal-hal kecil yang nggak kumasukin di rencanaku tetap tercover sama budget liburanku dan nggak malah jadi hidden cost saat traveling.

Dampak Hidden Cost saat Traveling pada Keuangan

Ya sebenarnya nggak ada dampak yang gimana-gimana sih. Cuma emang kalau ngomongin duit sih lumayan rumit ya.

Maksudku begini, kalau emang ada banyak sekali biaya tersembunyi yang harus kukeluarkan saat traveling, itu berarti:

  • Tabunganku akan berkurang lebih banyak dari rencana.
  • Saldoku menipis bahkan sebelum gajian
  • Yang terakhir ini yang paling bikin miris, akan muncul rasa bersalah yang datang diam-diam.
Baca juga:  Tips Mengelola Keuangan untuk Cewek Single

Andai begini, andai begitu. Yang paling ngeri adalah andai aku nggak liburan, pasti tabunganku akan baik-baik saja.

Padahal, liburan ‘kan harusnya jadi sarana healing buatku, kok berubah jadi ajang penyesalan atau malah memunculkan kecemasan lain.

Tapi, dari situ aku juga bisa paham satu hal. Financial freedom bukan cuma soal aku bisa pergi kemana saja. Lebih dari itu, aku bisa pergi kemana pun tanpa rasa takut sama kondisi rekeningku setelahnya.

Cara Mengantisipasi Hidden Cost saat Traveling

traveling bareng teman

Setelah beberapa kali liburan dan mengeluarkan lumayan banyak dana untuk kejadian di luar budget, akhirnya aku mulai melakukan ini:

  1. Menambahkan dana buffer sekitar 15-20%, kalau nggak kepakai ya kuanggap sebagai bonus.
  2. Aku memisahkan dana buat traveling dari pos pengeluaran lainnya. Nggak ambil dana darurat juga. Intinya, aku bikin pos khusus buat liburan.
  3. Kalau liburannya beberapa hari, maka aku akan tetapkan budget Mungkin maksimal di angka 300ribu per hari. Kalau hari ini over budget, besok aku harus lebih hemat.
  4. Ini yang paling utama, harus menentukan batas pengeluaran untuk oleh-oleh. Nggak boleh lagi terlalu bernafsu saat belanja.
  5. Sebisa mungkin aku catat pengeluaran real time. Kalau bisa sih nggak nunggu pulang baru menghitung.

Saat Traveling, Hati-hati sama Hidden Cost ya!

Sebagai perempuan yang masih single dan suka bepergian, kadang sendirian, kadang bareng teman, aku belajar satu hal penting.

Liburan itu bukan soal seberapa jauh aku pergi. Tapi, seberapa sadar aku mengelola uang saat pergi.

Soalnya, tujuan akhirku bukan cuma foto estetik atau itinerary yang padat doang. Tapi, gimana caranya aku pulang dari liburan dengan hati yang tenang dan rekening yang tetap aman.

Maksudku, healing boleh. Nggak masalah sama sekali. Yang jelas, jangan impulsif. Hingga, sampai ada bocor halus di dompet atau rekeningku.

14 pemikiran pada “Hidden Cost Saat Traveling yang Diam-Diam Bikin Budget Jebol”

  1. Harus sangat hati-hati sist.
    Kalau keuangan lebih bisa lega, pun jangan terlalu diobral sih, karena didepan kita g bakalan tahu. Sesuai rel rencana udah Alhamdulillah

    Balas
  2. Hidden cost saat traveling ini sering banget kejadian tanpa disadari. Aku sendiri pernah over budget karena biaya kecil seperti transport tambahan, tiket dadakan, atau makan di tempat wisata yang lebih mahal. Setelah itu jadi lebih detail dalam budgeting supaya perjalanan tetap nyaman tanpa bikin keuangan berantakan

    Balas
  3. Sayangnya ini yang membuatku selalu ogah-ogahan travel. Selain harus jadi akuntan dadakan, kadang rencana yang udah matang pun bisa berubah di hari-H. Bukannya healing, akhirnya liburan itu malah berujung bikin capek fisik dan mental ToT

    Salut sama orang-orang yang hobi travel, kalian berani mencoba hal baru dan pasti sangat ahli dalam perencanaan

    Balas
  4. Iya bener juga mbak, kadang biaya makan juga kalo pengen kulineran jadi bisa membengkak ya bajetnya, apalagi sambil kongkow-kongkow di cafe gitu…, mesti disiplin juga.
    Satu lagi, yang kadang masuk secara terselubung yaitu biaya oleh-oleh yang membengkak, padahal udah dibajetin sekian, pas ke toko oleh-oleh malah belanja ini itu jadinya bengkak deh….

    Balas
  5. Belum lagi kalau bawa keluarga kak. Persiapannya bisa panjang nunggu sinetron cinta fitri selesai sampai 7 season baru kesampaian liburan bareng keluarga kecil. 😀

    Balas
  6. Kalimat penutupnya sangat menohok: bukan seberapa jauh pergi, tapi seberapa sadar mengelola uang saat pergi. Itulah definisi traveling yang sesungguhnya menyehatkan, bukan hanya badan dan pikiran yang healing, tapi juga kondisi rekening yang tetap aman setelah pulang. Artikel yang sangat bermanfaat bagi para solo traveler maupun yang suka liburan bareng teman!

    Balas
  7. Wah makasih kak tipsnya. Ini akan sangat berguna untuk travelling luar kota. Aku baru di dalam kota aja. Hehe

    Balas
  8. Naah betul banget ini Hidden coat sata travelling harus dihindari semaksimal munhkin. Jangan sampai sata selesai liburan jadi boncos dan bokek gak punya uang sama sekali. Aduuh jangan sampai deeeh….

    Balas
  9. Liburan itu kadang memang banyak pengeluaran tak terduga. Kayak aku waktu ke Yogya tahun lalu perkiraanku ah cuma sehari paling habis berapa lha setelah dihitung kok banyak banget pengeluaranku selama liburan? Jadi memang harus diantisipasi sih berbagai hidden cost saat liburan itu

    Balas
  10. Hidden cost ini memang suatu hal di luar dugaan, dan kudu disiapin. Apalagi kalau demen jajan yang nota bene melihat ada hal unyu dikit atau pengen nyobain kuliner unik langsung bikin berbinar hehe

    Balas
  11. Makasih pengingat dan tipsnyaaaa

    Buat kaum mendang mending, biaya tak terduga ini kadang memang bikin pening. Aku sendiri sebisa mungkin menahan diri untuk gak beli yang sekiranya gak butuh. Pokoknya harus tetap hemat dan gak boleh lebih dari anggaran atau uang saku kita

    Balas
  12. Bener banget sih kalau traveling mesti disiapin juga dana cadangan/dana darurat/dana lain-lainnya. Apapun istilahnya ya… 😀 Soalnya memang kadang kita udah budget-kan sekian untuk di setiap pos pengeluaran, tapi takutnya ada aja biaya tak terduga yang mesti keluar. Kalau aku kadang suka nggak kerasanya di makan dna jajan. Di-budget-in berapa tapi biasnaya suka lebih… Huhu

    Balas

Tinggalkan komentar