Hai, Cuti Lovers! Apa kabar kalian? Aku mau cerita soal pengalamanku menginap di Hotel Java Lotus Jember ya! Gimana aku sampai nginap di sana, apa kalian mau baca?
Jadi ceritanya, awal Desember lalu, sebuah pesan dari Pak Didik masuk ke ponselku. Singkat, lugas, dan khas orang desa yang nggak suka basa-basi.
Beliau memintaku datang ke Tanggul untuk mengurus akta jual beli (AJB) sawah yang beberapa waktu lalu resmi berpindah tangan. Iya. Sawah itu kini bukan lagi milikku, tapi urusannya masih menyisakan jejak yang harus kubereskan dengan rapi.
Aku pikir perjalanan ini nggak akan sebentar. Urusan administrasi di desa selalu datang dengan cerita sendiri, mulai dari menunggu tanda tangan, berbincang dengan perangkat desa, sampai obrolan kecil yang entah kenapa sering melebar ke mana-mana.
Tapi aku juga tahu, ini bagian dari tanggung jawab yang harus segera kutuntaskan.
Maka pagi itu, aku berangkat ke Tanggul dengan niat menyelesaikan satu bab, meski tubuhku sudah lebih dulu membayangkan lelahnya. Karena aku nggak mau sendirian saat mengunjungi kota itu, aku mengajak serta sahabatku yang memang butuh refreshing.
Daftar Isi
Kenapa Nggak Menginap di Rumah Saudara?
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa nggak menginap di rumah saudara saja? ‘Kan lumayan gratis.
Memang benar, aku mungkin akan lebih menghemat biaya bepergian kalau menginap di rumah saudara.
Tapi, setelah semua paman dan bibiku meninggal dan hanya meninggalkan sepupuku di sana. Desa itu sudah bukan tempat pulang sementara yang nyaman lagi.
Aku nggak akan ke sana kalau nggak pulang bersama kedua orang tuaku. Biarlah orang berkata apa. Aku nggak ingin perduli lagi.
Jadi, kemana aku pergi setelah berpisah dengan Pak Didik dan istrinya?
Perjalanan Menuju Jember dan Keputusan Menginap
Kami berpisah dengan Pak Didik di pinggir jalan Tanggul, nggak jauh dari tempat bis mini berhenti.
Ada jabat tangan singkat, senyum kecil, lalu bis mini itu perlahan bergerak meninggalkan Tanggul. Bahkan, aku masih ingat pesan istrinya Pak Didik.
Kalau ada apa-apa nanti chat aku aja ya, Mbak.
Mungkin beliau berpikir karena kami berdua belum menikah, maka kami akan panik kalau sampai ketemu hal yang nggak kami inginkan.
Beliau belum tahu saja kalau aku dan sahabatku lebih tangguh dari itu. Dan terbukti, kami nggak perlu nge-chat beliau hingga saat ini. Semua sudah bisa kami handle sendiri. Hehehe….
Di dalam bis, aku menyandarkan punggung dan membiarkan tubuh ikut goyah mengikuti jalan. Rasanya lega, kayak aku baru saja melepaskan satu beban dari pundakku.
Urusan sudah rampung, tanda tangan sudah selesai. Sekarang tinggal satu hal yang kupikirkan. Beristirahat dengan tenang sebelum pulang ke Surabaya.
Jujurly, pilihan hotel itu sudah kupikirkan sejak sebelum berangkat ke Tanggul. Aku nggak ingin asal menginap. Aku mau tempat menginap yang nyaman.

Sampai kemudian aku memilih Java Lotus Hotel Jember. Bukan tanpa sebab ya, ini beberapa pertimbanganku:
- Lokasinya yang strategis, dekat dengan Stasiun Jember, sehingga memudahkan perjalananku esok hari.
- Penilaian para traveler di OTA juga cukup meyakinkan. Banyak yang menyebut hotel ini nyaman, bersih, dan cocok untuk singgah semalam tanpa drama.
- Harga yang masih masuk akal untuk reputasinya sebagai hotel yang relatif baru.
Semua itu, membuatku mantap untuk menekan tombol booking.
Di tengah perjalanan ke Jember, aku sempat membuka ponsel untuk menghubungi beberapa teman SMA yang kini menetap di Jember. Maksud hati, ingin sekalian jumpa dengan salah satu dari mereka gitulah.
Ada yang sudah berkeluarga, ada yang masih di kantor, ada pula yang sekadar membalas dengan, “Maaf ya, nggak bisa ketemu hari ini.”
Nggak masalah. Hidup memang sudah membawa kami ke ritmenya masing-masing.
Tahu nggak, Cuti Lovers? Pesan-pesan singkat itu malah membuatku tersenyum lho. Seenggaknya, kami masih saling mengingat, meski nggak selalu bisa bertemu.
Kesan Pertama Tiba di Java Lotus Hotel Jember

Java Lotus Hotel Jember letaknya benar-benar di tengah kota. Dari terminal bus, aku dan sahabatku masih harus melanjutkan perjalanan dengan taksi online.
Emang sih nggak jauh, tapi cukuplah memberiku kesempatan untuk mengamati sekitar dan memastikan bahwa ini adalah kawasan yang hidup.
Sopir taksi online nge-drop kami langsung di depan pintu yang terhubung ke lobi. Begitu sampai, kesan pertamaku sederhana tapi cukup meyakinkan.
Hotel ini nggak punya halaman yang luas. Kayak jalan besar langsung aja pintu masuk ke lobi. Halaman paling cuma buat nge-drop penumpang doang.
Lokasi Hotel Java Lotus Jember
Hotel ini berdampingan dengan kafe, dan di dalam hotelnya sendiri pun ada kafe yang terlihat nyaman.
Di seberang jalan, ada toko grosir bahan makanan pokok, sementara beberapa langkah dari pintu hotel sudah ada pedagang gorengan dan aneka camilan (bukanya mulai sore kayaknya).
Dalam hati aku langsung mikir, aman. Kalaupun aku dan sahabatku sedang GTM ala Jena, yang nggak bisa tutup mulut untuk urusan makan, kami jelas nggak akan repot cari asupan.
Masuk ke area lobi, suasananya langsung berubah. Waktu itu sudah mendekati akhir tahun, dan lobi hotel nampak dihiasi dengan berbagai ornamen bernuansa Natal.
Nggak berlebihan, tapi cukup memberi rasa hangat dan menenangkan.
Di salah satu sudut, tersedia welcome drink yang bisa dinikmati tamu. Aku dan sahabatku memang nggak sempat mencicipinya, tapi keberadaannya sendiri udah kayak perhatian kecil yang menyenangkan, khususnya bagi traveler yang datang dengan badan lelah dan tenggorokan kering setelah perjalanan panjang.
Di lobi itu juga ada ruang tunggu dengan dua set sofa empuk yang tertata rapi lho. Aku sempat duduk sejenak, mengamati sekitaran hotel sembari menunggu sahabatku kelar checkin.
Ruangannya nggak mewah, bahkan terkesan biasa saja, tapi justru itu yang membuatnya nyaman. Warna interiornya dominan abu-abu. Netral.
Aku sempat berpikir, kalau misalnya nih, salah satu teman SMA-ku tadi sempat datang menemuiku, ruang tunggu ini akan jadi tempat ngobrol yang pas.
Persis saat aku mengunjungi kakak kelasku semasa SMA, waktu dia dan suaminya menginap di salah satu hotel di Semarang yang lokasinya nggak jauh dari kosanku.
Nggak terasa canggung, nggak juga berisik, cukup private-lah untuk berbagi obrolan singkat ala teman lama.
Proses Checkin yang Tanpa Drama

Setelah puas memperhatikan lobi yang sederhana tapi ramah itu, aku langsung menuju resepsionis untuk check-in. Prosesnya cepat dan tanpa drama.
Kami hanya perlu menunjukkan bukti booking dari OTA, lalu diminta KTP. Pihak resepsionis mengurus administrasinya dengan sigap, kemudian menyerahkan kunci kamar beserta KTP kami kembali.
Nggak sampai lima menit. Nggak ada antrean panjang. Pokoknya mah, nggak ada kendala yang berarti. Semuanya lancar jaya. Persis seperti yang kuharapkan setelah hari yang cukup melelahkan.
Dan di titik itu, aku tahu. Malam ini, seenggaknya soal tempat singgah, aku sudah membuat pilihan yang tepat.
Kamar yang Menjadi Tempat Rehat Setelah Hari Panjang
Kamar kami berada di lantai dua. Dari lobi, aku dan sahabatku naik lift, lalu berjalan menyusuri lorong menuju kamar.
Mungkin karena sore itu langit sedang mendung, lorong jadi terasa agak remang-remang. Bukan sesuatu yang terkesan horror kok karena sebenarnya ada lampu penerangan.
Meski bukan tipe yang menyilaukan, tapi cukuplah untuk menuntun langkah dengan nyaman. Suasananya juga tenang, nggak tergesa, seperti mengajak pelan-pelan menurunkan tempo kehidupan gitu deh.
Tata Ruang Kamar yang Rapi Sejak Pintu Kubuka

Begitu pintu kamar kubuka, aku langsung menaruh kunci di tempat yang tersedia untuk akses listrik. Kamar yang kupesan tuh tipe Deluxe Standard Double.
Bukan kamar yang luas menurutku. Tapi, impresiku terhadap kamar itu adalah rapi dan fungsional. Nggak terasa sempit blas.
Di bagian paling depan terdapat pintu menuju kamar mandi. Setelah itu, baru ada lemari pakaian.
Lemari pakaiannya dilengkapi dengan gantungan baju yang cukup untuk kami berdua. Ada kotak deposit (safety box) untuk menyimpan barang berharga, kayak dokumen atau barang penting lainnya.
Di area ini juga sudah tersedia sandal kamar dan plastik khusus untuk baju kotor. Siapa tahu tamunya ingin menggunakan layanan laundry. Tentu saja, pembayarannya terpisah sama kamar ya.

Salah satu fasilitas yang paling kami manfaatkan adalah meja kerja yang menyatu dengan meja rias. Bikin mejanya jadi terasa panjang gitu deh.
Meja ini langsung jadi tempat favorit kami untuk menaruh berbagai perintilan, mulai dari tas kecil, botol minum, charger, hingga barang-barang yang biasanya ikut terbawa tanpa sadar, termasuk camilan yang kami beli.
Semua Fasilitas dalam Kamar Hotel Java Lotus Jember

Untuk kebutuhan minum, kamar ini menyediakan teko listrik, gelas, teh, kopi, gula, dan air kemasan yang tertata rapi.
Telepon kamar juga tersedia, meski nggak akan kami gunakan, tapi kehadirannya tetap memberi kesan kamar yang siap untuk kebutuhan dasar tamu.

Kamar mandinya bersih dan nyaman. Toiletries tersedia lengkap, termasuk gelas untuk kumur-kumur dan penutup rambut bagi yang nggak mau keramas.
Shower-nya lancar, dan suhu air bisa kuatur sesuai kenyamanan. Toiletnya bersih. Ada dua handuk dan satu keset yang bisa kami gunakan.
Menariknya, di dalam kamar sudah ada penunjuk arah kiblat. Ini tuh detail sederhana tapi sangat membantu. Kami nggak perlu repot lagi menentukan arah salat.
Hal lain yang perlu kalian catat adalah ketersediaan stop kontak.
Ada sekitar tiga sampai empat titik yang bisa digunakan. Sehingga aku dan sahabatku bisa mengisi daya ponsel masing-masing. Nggak perlu saling menunggu kayak pas kami menginap di hotel-hotel lain sebelum ini.

Meski kamar ini nggak punya balkon, tapi ada satu bagian berdinding kaca. Dari sana, kami bisa melihat siluet gunung di kejauhan. Kami bisa menarik kursi dari meja kerja untuk menikmati pemandangan sekitar hotel.
Meski nggak ada yang istimewa dari pemandangan kota ya. Tapi, kami cukup dimanjakan dengan keberadaan gunung di kejauhan sana.
Pada akhirnya, aku rebahan. Benar-benar rebahan.
Tubuhku akhirnya berhenti menahan lelah, dan kamar ini menjadi tempat yang pas untuk menutup hari yang panjang di Jember. Tenang dan bersih.
Sarapan dan Pagi di Jember
Pagi itu, sekitar pukul tujuh, aku dan sahabatku turun ke lantai dasar. Tujuannya, nggak lain dan nggak bukan adalah Restoran MakanKOE, milik hotel tempat kami menginap.
Begitu melangkah masuk, suasananya sudah terasa hidup. Meja-meja terisi, obrolan terdengar di sana-sini. Sepertinya hotel ini sedang cukup ramai, entah tamu kantor yang harus bergegas setelah sarapan, atau keluarga yang memilih staycation santai di akhir pekan.
Kami beruntung. Masih ada satu meja kosong yang pas untuk kami berdua.
Seperti kebiasaan yang hampir selalu kulakukan setiap sarapan di hotel, aku nggak langsung mengambil makanan.
Kami berkeliling dulu. Pelan-pelan, sambil memperhatikan satu per satu menu yang tersedia. Bukan cuma soal lapar, tapi soal memilih apa yang benar-benar ingin kunikmati pagi itu.
Pilihan makanannya ternyata cukup beragam. Sesuai ekspektasiku saat memutuskan untuk booking hotel ini.
Di bagian snack, ada aneka kue, wafel, dan bubur. Untuk makanan berat, tersedia soto ayam, nasi goreng, nasi kuning, nasi putih, lengkap dengan berbagai pilihan lauk.
Ada juga mie instan dan telur yang bisa request mau digoreng gimana. Urusan minumannya simpel tapi aman. Air mineral dan infuse water. Tak ketinggalan, potongan buah segar sebagai penutup.

Aku mulai dengan bubur ayam. Sayangnya, rasanya agak… kureng. Hampir hambar. Entah karena memang begitu, atau aku yang kurang jago meraciknya.
Lalu aku ambil soto ayam. Bukan yang bikin amaze, tapi masih masuk kategori not bad untuk sarapan hotel.
Untuk makanan berat, aku memilih nasi putih dengan aneka lauk. Aku juga minta omelet dan telur ceplok.

Nah, di sinilah titik kebahagiaanku. Omeletnya enak. Bahkan, enak banget menurut standarku. Sampai akhirnya aku nambah lagi, tanpa rasa bersalah. Hehehe.
Minuman pilihanku jatuh pada infuse water. Segar dan ringan. Cukup untuk menemani pagi tanpa bikin eneg.
Bagian dessert jadi penutup yang cukup ramai di piringku. Aku ambil wafel, beberapa kue, bubur ketan item, dan potongan buah.
Bubur ketan itemnya sebenarnya menggoda, tapi santannya bukan tipe favoritku. Terlalu encer. Alhasil, bubur itu nggak berhasil kuhabiskan. Meski sudah ditolong sama sahabatku tetap saja nggak habis.

Meski begitu, pagi itu tetap berakhir dengan perut kenyang. Semua menu sarapan yang kupilih, selain bubur ketan item, berhasil kutandaskan.
Sarapan yang mungkin nggak bisa kubilang sempurna, tapi cukup hangat untuk membuka hari.
Rencananya, setelah sarapan, kami akan ke rooftop hotel untuk cek fasilitas hotel lainnya.
Fasilitas Lain di Hotel Java Lotus

Sebenarnya, aku baru benar-benar ingat soal kolam renang ini setelah membaca chat dari teman SMA-ku kemarin.
Ternyata, di rooftop bukan cuma ada kolam renang. Ada beberapa fasilitas lain yang bisa dinikmati tamu hotel. Salah satunya Sky Lounge, yang masih menjadi bagian dari restoran MakanKOE.
Tempatnya dibuat santai, lengkap dengan live music. Jujur saja, harusnya malam sebelumnya aku dan sahabatku ke sini, ikut larut dalam suasana party kecil di ketinggian. Sayang, waktu dan tenaga kami nggak berpihak.

Selain itu, ada juga fasilitas gym untuk tamu yang tetap ingin berolahraga meski sedang menginap. Dan tentu saja, tujuan utamaku naik ke rooftop adalah kolam renang.
Bahkan, saat baru keluar dari lift, aku sempat berpapasan dengan beberapa pengunjung hotel yang kelihatannya baru selesai berenang.
Handuk masih melingkar di bahu, wajah mereka tampak segar, atau se-nggak-nya begitu kesanku.
Secara visual, suasana kolam renangnya sebenarnya cantik. Langit biru terbentang di atas kepala, siluet gunung terlihat di kejauhan, dan air kolam tampak jernih memantulkan cahaya. Pemandangan yang harusnya bikin betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu di sana.

Hanya saja, ada satu hal kecil yang cukup mengganggu. Aroma yang kurang ramah di hidung. Nggak sampai yang bikin ingin buru-buru pergi, tapi cukup terasa dan sedikit mengurangi kenyamanan.
Meski begitu, kalau tujuan utamanya adalah staycation, sekadar rehat, tidur nyenyak, makan enak, dan menikmati fasilitas tanpa ekspektasi berlebihan, menurutku hotel ini sudah lebih dari cukup.
Kadang, yang kita butuhkan memang bukan yang sempurna ‘kan? Tapi yang memadai dan memberi rasa nyaman.
Checkout Nggak Pake Lama
Karena pas checkin kami nggak meninggalkan KTP, proses checkout-nya mulus saja gitu. Nggak pake lama.
Kami hanya perlu mengembalikan kunci kamar saja ke bagian petugas jaga di lobi. Habis itu, tinggal nunggu taksi online yang akan membawa kami ke stasiun buat balik ke Surabaya deh.
Maukah Kalian Menginap Di Sini Nanti?
Perjalananku ke Jember kali ini sejatinya berangkat dari urusan yang cukup panjang dan melelahkan di Tanggul.
Tapi justru dari situ, Java Lotus Hotel Jember hadir sebagai tempat singgah yang memberi jeda. Jeda untuk bernapas, merebahkan badan, dan menenangkan pikiran sebelum kembali ke Surabaya.
Lokasinya yang strategis di tengah kota, dekat stasiun, mudah kuakses dari terminal, dikelilingi tempat makan, dan punya fasilitas yang cukup lengkap, membuat hotel ini terasa ramah untuk berbagai tipe traveler. Baik yang datang untuk urusan kerja, transit singkat, atau sekadar ingin staycation sederhana tanpa ribet.
Kamarnya nyaman, bersih, dan fungsional. Sarapannya variatif meski ada beberapa menu yang rasanya biasa saja.
Fasilitas rooftop dengan kolam renang, sky lounge, dan gym, memberi nilai tambah, meski tetap ada catatan kecil di sana-sini.
Tapi, bukankah hampir setiap perjalanan memang selalu punya cerita “kurang sedikit” yang justru bikin pengalaman jadi terasa nyata? Iya nggak, Cuti Lovers?
Jadi, kalau kalian mencari hotel di Jember yang praktis, nyaman, dan masuk akal secara fasilitas, Java Lotus Hotel bisa jadi pilihan.
Bukan hotel yang membuatku berkata “wah” dengan berlebihan, tapi cukup membuatku berkata, “ya, aku nggak keberatan kalau harus menginap di sini lagi.”
See you di cerita liburanku selanjutnya ya, Cuti Lovers!






Yeay… Mau banget menginap di Hotel Java Lotus kalau berkesempatan main lagi ke Jember
Iya dulu saya pernah ke Jember waktu acara Papuma di Watu Ulo
Tapi nginap di rumah teman blogger sekaligus Genpi Jember.
Kalau di Java Lotus dengan segala fasilitasnya itu beneran bakalan betah deh saya. Hahaha …
Suka sama view dari kolam renang yang di rooftop, cakeeeep!
Alhamdulillah bisa rehat di hotel Java lotus Jember setelah urusan panjang yang melelahkan.
Sehat selalu ya …
Saya pernah sekali ke Jember. Hanya semalam karena urusan kerjaan. Lupa waktu itu menginap di mana. Kayaknya pengen deh ke Jember lagi. Tapi, kali ini untuk berwisata. Menginap di Hotel Java Lotus ini menarik banget nih buat saya.
Saya pun aliran yang lebih pilih nginap di hotel walau ada keluarga atau kerabat di kota tujuan demi kenyamanan diri sendiri dan tak merepotkan. Dibilang dari segi hemat pun sebenarnya sama saja, karena rumah saudara kadang lokasinya agak jauh dari moda transportasi yang mau kita naiki berikutnya. Mau minta diantarkan lagi ke terminal / bandara / pelabuhan / stasiun pun rasanya segan.
Btw, hotel ini pemandangan dari kolam renang di rooftopnya bagus banget mbak. Sarapannya juga terlihat menggoda.
Saya penggemar sky lounge dan atau roof top. Apalagi venue nya dibuat indah, bersih, tertata, dengan fasilitas bersantai yang lengkap seperti di Hotel Java Lotus Jember ini. Lewat foto di atas, ada sesuatu yang menarik buat dilihat. Konstruksi besi yang diisi oleh gelondongan kayu. Wooaahh estetik betul. Artsy dan ciamik untuk dilihat dan jadi poin photography.
Simpan ah referensi ini. Siapa tahu suatu saat berkunjung ke Jember dan cari tempat menginap yang dekat dengan berbagai fasilitas umum.
Kalau bareng sahabat jadinya punya ide brilian buat melakukan hal karena saling mendukung ya. Dan terciptalah ide apik buat menginapnya di Java Lotus Hotel Jember yang bikin betah
Dari awal mbak sudah mantap pilih Hotel Java Lotus Jember, dan ternyata ekspektasinya cukup terjawab yaaa.
Kamarnya rapi, fungsional, stop kontak cukup, ada penunjuk kiblat, plus meja panjang yang kepakai banget buat naruh perintilan. Sarapannya juga aku lihat cukup enak ya. Kalau anak-anakku, selama ada omelet, sudah cukup banget. Hehehe.
Aku suka dengan kamarnya, ngga terlalu banyak warna. Nampak hangat dan nyaman.
Trus ruang gym nya duuuh viewnya perkotaan.
Trus itu salfok sama skylounge partisi yang ada kayu2nya unik bangeet
Saya pun kalau jadi mba lebih milih menginap di hotel karena terasa santai gak canggung, fasilitas juga oke, nyaman dengan pemandangan langit luas, ada sarapannya juga, jadi gak bakalan merasa merepotkan saudara kalau diinapi. Apalagi kalau sodaranya belum terlalu akrab susah mau ngapa-ngapain kan, gak bebas hehe.
Wah seru banget nih kalau pas ke Jember nginap di hotel ini juga bareng keluarga, recommended banget ya kak
Suami saya pun tipikal yang lebih memilih nginap di hotel dibanding di rumah keluarga kalau sudah gak ada keluarga inti di sana. Gak mau merepotkan juga sih alasannya. Cukup nginap di hotel, dan nanti ke rumah keluarga tuh untuk berkunjung
Kalau ditanya mau ga nginep di Hotel Java Lotus, aku mau mbak, hehehe. Soalnya bagus dan nyaman kalau dari ulasannya. Btw, di kamar kita juga bisa lihat view ke luar. Jember juga banyak destinasi wisata kan, kapan kapan aku mau bilang suamiku deh biar liburan ke Jember
Terkadang lebih memilih yidur di hotel daripada di rumah saudara itu memang lebih baik. Alasan utamanya tentu saja tidak ingin merepotkan apalagi jika yang sepuh-sepuh sudah meninggal dan saudara kita sudah berkeluarga
Di bagian rooftop hotel java lotus Jember ada tempat gym juga ya, keren bagi yang mau latihan kebugaran, kolam renangnya juga enak tuh mbak kalo pas pagi renang bareng keluarga dan anak2..
Saya juga tim kalau ke mana-mana lebih memilih menginap di hotel, Mbak, lebih nyaman dan bebas. Btw hotelnya terlihat nyaman dan menu makannya juga enak-enak kayaknya ya, kalau ke Jember lagi bisa cobain hotel ini, apalagi ada kolam renang dan juga tempat gym yang viewnya ke kota, cakep banget bikin semangat olahraganya pastinya.