Eh, Cuti Lovers. Pernah nggak sih kalian lihat orang kerja dari kafe terus backgroundnya pemandangan pantai gitu? Bukan sekedar gambar tapi pantai beneran.
Kayaknya, enak ya kalau bisa kerja sambil traveling. Kayak, buka laptop bisa sambil ngopi, siangnya meeting bentar, terus lanjut jalan-jalan.
Mana nggak perlu buru-buru pulang dengan alasan besok harus masuk kantor. Pasti damai punya kehidupan yang semenyenangkan itu ya, Cuti Lovers.
Apalagi zaman sekarang makin banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan secara remote. Nggak harus selalu duduk di kantor untuk beresin kerjaan. Bosan pasti enggan menyapa.
Tapi, jangan lupa! Yang namanya kerja remote tetap judulnya kerja.
Nggak peduli kita bisa atur lokasinya sesuka hati atau sesuai mood. Masih ada deadline, meeting, target, dan tanggung jawab yang terus ngintilin kita kemana-mana.
Kenapa Pekerjaan Remote Terlihat Cocok untuk Traveler?
Ya karena itu tadi. Bekerja secara remote memungkinkan kita punya fleksibilitas lokasi kerjanya.
Asal ada laptop dan koneksi internetnya, mau kerja di coworking space, kafe, penginapan, atau bahkan di kota lain mah gaskeun.
Gampangannya begini, aku nih tinggal di Madura. Terus, suatu ketika ada acara di kampung bapakku yang ada di Jember. Karena kerjaanku remote, aku nggak harus ambil cuti untuk ikut acara itu.
Tinggal beresin saja kerjaanku. Entah itu pas nunggu kereta, di dalam kereta, atau pas jeda acara di rumah Jember. Kerjaan kelar, aku juga nggak perlu ketinggalan acara keluarga deh.
Asli. Buat Cuti Lovers yang emang suka nomad, fleksibilitas kayak gini tuh jelas amat sangat berharga. Kayak, kita masih tetap bisa kerja sambil punya kesempatan melihat tempat baru.
Tapi, banyak yang lupa nih. Bisa kerja dari mana saja tuh nggak selalu berarti kita bisa kerja kapan saja. Lebih jauh lagi…
Remote Bukan Berarti Liburan
Memang sih, membayangkan foto-foto orang bisa kerja sambil traveling tuh asyik banget. Hidup kayak terlalu santai gitu deh.
Tapi, kalau bukan kita yang menjalani, jelas nggak tahu ada cerita apa di balik foto bekerja sambil traveling yang mereka post. Bisa jadi ‘kan, foto itu mereka ambil saat istirahat selama 30 menit.
Padahal, kalau ada meeting jam 10 pagi, kita ya harus tetap hadir. Deadline jam 5 sore nggak akan mundur meski kitanya lagi happy-happy di tempat wisata.
Kalau ngomongin soal fleksibilitas, pekerjaan remote cuma bisa kasih fleksibilitas tempat saja. Nggak otomatis kasih lebih banyak waktu luang. Kecuali kalau dasarnya kita pintar mengatur waktu.
Jangan Sampai Traveling Malah Jadi Nggak Menyenangkan

Secara kasat mata, traveling sambil kerja mungkin terdengar menarik. Dalam artian, kita bisa main kemanapun tanpa terhalang pekerjaan.
Sayangnya, banyak dari Cuti Lovers yang lupa sama konsekuensinya. Gimana tuh maksudnya?
Contohnya begini, aku suka traveling. Menikmati tempat baru tanpa terburu-buru. Bisa jalan kaki, mencoba makanan lokal, atau tiba-tiba mampir ke tempat yang menarik.
Kalian pikir semua ketenangan itu akan sama saat traveling sambil kerja? Jelas nggak mungkin lah.
Waktunya meeting ya tetap harus meeting. Kerjaan yang sudah deadline, tetap harus kita selesaikan. Intinya, tanggung jawab sama kerjaan nggak boleh terabaikan.
Makanya, sebelum ambil keputusan untuk ambil pekerjaan remote dengan alasan biar bisa sambil traveling, kalian perlu jujur sama diri sendiri. Memang ingin traveling sambil bekerja atau cuma mau liburan?
Keduanya bukan sesuatu yang mustahil untuk kita upayakan. Tapi, konsepnya jelas beda.
Siapa yang Cocok Bekerja Remote Sambil Traveling?
Aku jelas nggak bisa. Soalnya, kalau berada di tempat lain, selain cafe dekat rumah, pojok bekerja di rumah, atau tempat lain yang memang ku-setting jadi tempat bekerja, aku bawaannya malas.
Alamat sering diomelin sama klien nih aku. Pasti kerjaanku bakalan molor mulu. Terus, siapa dong yang cocok bekerja remote sambil traveling?
Menurutku, gaya bekerja kayak gini tuh akan sangat cocok bagi Cuti Lovers yang cukup disiplin dalam mengatur waktu dan nyaman bekerja secara mandiri.
Secara ya, kita tuh perlu membatasi kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya menikmati perjalanan. Belum lagi, kalau nggak semua pekerjaan remote artinya bebas menentukan jam kerja.
‘Kan ada tuh pekerjaan yang tetap punya meeting rutin, target, dan jadwal tertentu.
Meski nggak bisa kupungkiri juga kalau pekerjaan remote tuh cukup beragam. Nggak hanya pekerjaan digital yang identik sama laptop. Ada juga kok profesi di bidang media yang fleksibel.
Seorang penyiar radio, misalnya, mereka tetap butuh perangkat dan jadwal siaran tertentu sehingga nggak serta-merta bisa bekerja dari sembarang tempat.
Hal serupa berlaku untuk berbagai pekerjaan kreatif lainnya. Ada yang benar-benar fleksibel, ada pula yang tetap butuh kehadiran pada waktu dan tempat tertentu.
Remote Worker Nggak Harus Jadi Digital Nomad
Siapa yang masih berpikir kalau pekerjaan remote hampir sama dengan kehidupan digital nomad? Nggak sama ya, Cuti Lovers.
Kalian bisa bekerja remote sambil tetap tinggal di satu kota kok. Sama sekali nggak ada kewajiban untuk berpindah-pindah tempat secara berkala.
Kalau memang kalian suka traveling, coba pola yang lebih realistis. Gimana tuh polanya?
Misalnya, tinggal di satu kota selama satu bulan. Bekerja pada hari biasa, lalu pakai sore atau akhir pekan untuk menjelajah di kota tersebut. ‘Kan lumayan bisa sambil ngonten.
Mau sambil bikin konten audio dan siaran secara digital pas waktu santai juga bisa. Pakai konsep radio TikTok yang memadukan format siaran dengan platform media sosial.
Aku sih melihatnya ini tuh berarti pekerjaan dan aktivitas di bidang media juga terus berkembang mengikuti teknologi, meskipun tingkat fleksibilitasnya tetap bergantung pada jenis pekerjaannya.
Apa yang Perlu Dipersiapkan untuk Bekerja sambil Traveling?
Kalau Cuti Lovers ingin bekerja sambil traveling, ada beberapa hal praktis yang sebaiknya nggak kalian lupakan, sebagai berikut:
- Koneksi internet. Jangan hanya mengandalkan Wi-Fi penginapan, apalagi kalau pekerjaannya melibatkan meeting atau pengiriman file penting.
- Tempat kerja. Bekerja dengan pemandangan pantai memang menarik untuk foto, tapi belum tentu juga bikin kalian merasa nyaman selama berjam-jam. Meja, kursi, colokan listrik, dan suasana yang tenang tetap jadi hal yang penting.
- Perbedaan waktu. Ini kalau kalian memutuskan untuk traveling ke negara lain. Jam kerja kita mungkin mengikuti waktu Indonesia, sementara lokasi kita bisa jadi berada di zona waktu berbeda.
- Anggaran. Jangan menganggap pekerjaan remote otomatis bikin biaya traveling jadi lebih murah. Penginapan, transportasi, makanan, internet, dan kebutuhan kerja tetap butuh biaya.
Jadi, Apakah Pekerjaan Remote Cocok untuk Traveler?
Menurutku pribadi, pekerjaan remote memang bisa membuka kesempatan untuk menggabungkan pekerjaan dan traveling. Tapi, punya fleksibilitas lokasi nggak otomatis berarti punya fleksibilitas waktu.
Cocok atau nggaknya sangat bergantung pada jenis pekerjaan, aturan perusahaan, kemampuan mengatur waktu, kondisi finansial, dan gaya traveling kita sendiri.
Kalau membayangkan pekerjaan remote sebagai tiket untuk liburan setiap hari, mungkin kita akan kecewa.
Tapi kalau melihatnya sebagai kesempatan untuk mengatur ulang cara bekerja dan menikmati perjalanan, konsep ini justru menarik.
Kita nggak harus menjadi digital nomad atau berpindah kota setiap minggu. Bahkan bekerja dari kota yang hanya beberapa jam dari rumah pun bisa memberikan pengalaman baru.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan hanya soal cocok atau nggaknya pekerjaan remote untuk traveler. Tapi, gaya traveling apa yang cocok untuk cara kerjaku?
Soalnya, kerja sambil traveling yang menyenangkan bukan selalu tentang seberapa sering kita berpindah tempat, tapi apakah kita masih bisa menikmati perjalanan tanpa merasa dikejar deadline.





